MANHAJ SISTEMATIKA NUZULNYA WAHYU

(Bagian 1 dari 3)
Kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw secara konsekuen, haruslah mencakup seluruh aspek kehidupan. Bukan hanya menyangkut persoalan-persoalan ‘ubudiyah’, tapi juga dalam hal membangun jamaah, kepemimpinan serta pembinaan dan dakwah. Karena itu kebangkitan Islam kembali harus menapaktilasi pola pembelajaran ber-Qur’an sebagaimana Rasul dan para sahabatnya.

Rasulullah Saw mengajarkan Al-Qur’an secara bertahap sesuai turunnya wahyu dari Allah Swt. Bila beliau menerima wahyu maka segera diajarkan kepada para sahabatnya. Para sahabat berusaha memahami dan kemudian mengamalkannya. Demikian seterusnya sehingga pada saat Al-Qur’an ini sempurna, saat itu pula Al-Qur’an telah terwujud dalam kehidupan. Dengan kata lain, Rasul membangun kekuatan dan kemulian Islam generasi pertama sesuai berdasarkan sistematika nuzulnya wahyu, yang secara tertahap dimulai dari surat Al-Alaq ayat 1-5 yang turun pertama kali di Gua Hira’, sampai dengan surat Al-Maidah ayat 3 yang turun terakhir kali ketika Rasulullah Saw melaksanakan Haji Wada’ (Haji Perpisahan).

Berangkat dari pemikiran ini maka lahirlah Manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu. Manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu pada dasarnya adalah upaya merekontruksi nilai-nilai Al-Qur’an secara sistematis, sebagaimana yang dilakukan Rasul dan para sahabatnya. Karena itu tujuan dari manhaj ini adalah menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an secara kaffah dalam diri jamaah dan umat manusia. Pengamalan Manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu merujuk pada dalil-dalil qath’i dari ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Adapun pengertian Sistematika Nuzulnya Wahyu sebagai pola dasar perjuangan Jamaah Hidayatullah, diambil dari nilai-nilai Al-Qur’an Surah Al-Fatihah dan wahyu-wahyu sebelumnya. Pembatasan ini didasarkan pada kenyataan bahwa al-Fatihah adalah Ummul Qur’an yang mengandung konsep global dari kandungan Al-Qur’an secara keseluruhan. Sedangkan wahyu-wahyu pra al-Fatihah adalah bekal dasar untuk dapat mengamalkan al-Fatihah.

Berdasarkan keterangan Ibnu Abbas dan pakar tafsir lainnya, urut-urutan ayat pra al-Fatihah yaitu: I) Surat Al-Alaq: 1-5; 2)Surat al-Qalam:1-7, 3)Surat al-Muzammil: 1-10, 4) Surat al-Mudatstsir: 1-7 dan 5)Surat al-Fatihah:1-7.

Dengan Asumsi di atas maka dengan turunya Surat al-Alaq hingga Surat al-Fatihah, telah memberikan landasan yang kuat tentang aqidah seorang muslim, selanjutnya menunjukkan visi serta misi yang jelas akan makna hidup seorang muslim. Demikian pula dengan wujud aplikasinya dalam kehidupan sosial.

Bersambung……..


About this entry