MANHAJ SISTEMATIKA NUZULNYA WAHYU
MANHAJ SISTEMATIKA NUZULNYA WAHYU
(Kedua dari 3 Bagian)
Allah Tuhan yang maha bijaksana tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.Ia juga Maha Mengetahui apa yang paling penting serta paling mendasar bagi pembinaan keimanan manusia. Diturunkannya surat-surat tertentu mendahului surat-surat lain merupakan pilihan
Allah Swt yang tidak patut seorang muslim meragukannnya.
Setiap kebijaksanaan Allah Swt tentu mengandung hikmah, termasuk dalam pemilihan ayat yang turuan diawal bi’tsah. Berdasarkan fakta sejarah kita tertambah yakin bahwa kunci sukses perjuangan Rasulullah itu terletak pada pelaksanaan ajaran Islam yang sistematis tersebut.
Wahyu pertama (Surat al-Alaq: 1-5) merupakan kunci utama di dalam membangun kesadaran hidup bertauhid. Melalui wahyu pertama itu Allah Swt mengenalkan diri-Nya sebagai Rabb yang memiliki sifat utama yaitu sebagai Pencipta dan sebagai dzat Yang Maha Mulia serta Yang Maha Mengetahui.
Lebih dari itu, pengenalan terhadap Allah Swt dilakukan dengan cara yang sangat manusiawi, yaitu melalui tarbiyah bukan dogma. Untuk itu Allah Swt mengajak manusia mengaktifkan seluruh instrument yang dimilikinya untuk mengenal Tuhannya.
Dalam wahyu ini juga Allah Swt mengajak manusia untuk mengenali dirinya sendiri. Bahwa semua manusia berasal dari bahan baku yang sama, yaitu ‘alaqah. Melalui pengenalan ini diharapkan manusia dapat memposisikan dirinya di hadapan Allah Swt. Bahwa selain hina dan lemah di hadapan Allah Swt, manusia itu tidak mempunyai nilai apa-apa. Ia hanya sebagai makhluk sebagaimana ciptaan lainya, yang segala sesuatunya sangat tergantung kepada Sang Pencipta.
Sebagai makhkuq (yang diciptakan) manusia tidak mempunyai hak apa-apa di hadapan Khaliq (Pencipta)-nya. Tidak ada hak menawar apalagi menampik titah dan perintah-Nya. Segala bentuk perlawanan merupakan penyimpangan dari fitrah dan tujuan penciptaannya.
Hasil konkret dari pendirikan al-Alaq ini adalah lahirnya pribadi-pribadi dan masyarakat muslim yang hidup secara tauhidi, baik dalam berfikir, berbuat, maupun bersikap. Semua pikiran, perbuatan, dan tindakannya hanya didasarkan pada satu keyakinan bahwa laa ilaaha illallah, tiada tuhan selain Allah.
Wahyu kedua (al-Qalam:1-7) membimbing manusia agar memiliki khittah (cita-cita) hidup yang jelas. Pada wahyu kedua inilah Allah Swt menginformasikan kepada setiap muslim untuk memantapkan keyakinan .Tidak mundur karena rintangan dan tidak takut karena celaan. Digambarkan prospek hidup seorang muslim dengan bayanan yang indah: tidak akan menjadi gila, mendapatkan guna dan manfaat yang tidak terbatas, serta memiliki akhlak dan pribadi yang agung. Digambarkan pula akibat bagi orang-orang yang mengingkari-Nya.
Wahyu ketiga (al-Muzammil: 1-10) lebih merupakan pembekalan mental yang harus disiapkan setiap pejuang Islam untuk menghadapi segala situasi. Persiapan ini menjadi sangat penting agar api semangat perjuangan tetap menyala sepanjang masa. Tak lapuk karena hujan,tak lekang karena panas. Istiqamah dalam berjuang, baik pada saat sempit maupun lapang.
Ada tujuh ‘azimat yang harus dimiliki oleh setip muslim sekaligus pembela Islam, yaitu: shalat lail, membaca al-Qur’an secara tartil, dzikir, ibadah dengan penuh kekhusyukan (kontemplasi), tawakkal, shabat, dan hijrah.
Bersambung….
About this entry
You’re currently reading “ MANHAJ SISTEMATIKA NUZULNYA WAHYU ,” an entry on ibnuyusuf.com
- Published:
- 7.20.10 / 8am
- Category:
- Dakwah





View Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]